Bekasi, 11 Maret 2025 – Pemerintah Kota Bekasi , melalui Dinas Tata Ruang Kota Bekasi, menggelar pertemuan dengan organisasi profesi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Wilayah Bekasi, untuk membahas strategi penanganan dampak banjir di bekasi dalam persfektif tata kota dan wilayah untuk mendukung ketahanan bangunan terhadap bencana. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam merancang solusi jangka panjang guna mengurangi risiko banjir dan meningkatkan ketahanan infrastruktur perkotaan.
Banjir merupakan salah satu permasalahan utama yang kerap melanda Kota Bekasi, yang sangat parah akhir-akhir ini di bulan maret 2025. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari tingginya curah hujan yang mengakibatkan meluapnya aliran sungai, penyempitan badan sungai, sistem drainase yang belum optimal Selain itu, pesatnya urbanisasi tanpa perencanaan tata ruang yang matang turut memperburuk kondisi, menyebabkan banjir semakin sulit dikendalikan.
Sebagai respons terhadap kondisi ini, Dinas Tata Ruang Kota Bekasi berinisiatif mengajak para profesional di bidang arsitektur (IAI Wilayah Bekasi) untuk merumuskan solusi yang dapat diterapkan dalam pembangunan wilayah, khususnya pada area rawan banjir di kota bekasi.
Tujuan Pertemuan
Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam kajian dan perencanaan strategis terkait penanganan banjir di kota bekasi. Beberapa tujuan utama yang ingin dicapai antara lain:
- Merumuskan konsep rumah tanggap banjir, yaitu bangunan yang dirancang untuk bisa beradaptasi banjir.
- Mengembangkan strategi pembangunan kembali untuk kawasan terdampak banjir dengan tata kelola kawasan yang lebih baik
- Mendorong integrasi sistem drainase yang lebih efektif dan berbasis ekologi, seperti pembuatan kantung tangkapan air, pemenuhan ruang hijau, sumur resapan, serta konsep sponge city.
Dalam diskusi, IAI Wilayah Bekasi mengusulkan beberapa konsep rumah tanggap banjir, yang dapat diterapkan dalam pembangunan maupun renovasi rumah di daerah rawan banjir, antara lain:
- Rumah Tangguh: Rumah yang dapat bertahan terhadap bencana, dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan.
- Rumah Panggung: Mengadopsi konsep rumah panggung tradisional bekasi, yang memungkinkan rumah tetap aman meski terjadi banjir.
- Rumah ngambang atau apung: Konsep rumah yang dapat tetap mengapung ketika terjadi banjir dan mengikuti level ketinggian air.
- Teras Unik : Memanfaatkan ruang teras dan karport untuk dibuat ruang di atasnya sebagai balokon dengan ketinggian level banjir.
- Selasar Evakuasi : membuat jalur selasar untuk jalur evakuasi warga saat terjadi banjir.
- Sistem Drainase Mandiri: Penerapan sumur resapan, ruang hijau,ruang tangkapan air, serta sistem filtrasi alami untuk mengurangi limpasan air hujan.
Sebagai kelanjutan dari pertemuan ini, DISTARU Kota Bekasi dan IAI Wilayah Bekasi akan melakukan:
- Kajian teknis konsep penataan wilayah, dengan mempertimbangkan faktor kebutuhan dan lingkungan.
- Pengembangan bengunan tanggap banjir, sebagai respon terhadap bencana.
Pertemuan antara DISTARU Kota Bekasi dan IAI Wilayah Bekasi ini menjadi titik awal dalam upaya kolaborasi bersama antara pemerintah dan para ahli profesional, membangun kota yang lebih tangguh terhadap bencana, terutama banjir. Dengan pendekatan berbasis perencanaan kota yang matang dan penerapan bangunan tanggap banjir bagi wilayah yang terdampak, sehingga Kota Bekasi dapat lebih siap menghadapi siklus banjir tahunan maupun dampak perubahan iklim di masa mendatang.